Wednesday, March 6, 2019

Jagoanya Selalu Keok, Kubu Prabowo Tuding LSI Dibayar Jokowi

PANTURAPOS - Kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menuding LSI Denny JA bekerja untuk Joko Widodo-Ma'ruf Amin menyusul hasil survei terbarunya yang memenangkan pasangan nomor urut 01 itu. Founder LSI Denny JA, Denny Januar Ali, membantah dan memberi penjelasan.

Rilis survei LSI Denny JA terbaru yang disampaikan pada Selasa (5/3) tentang elektabilitas capres-cawapres 2019 menyatakan Jokowi-Ma'ruf unggul dengan perolehan 58,7 persen. Sedangkan elektabilitas Prabowo Subianto-Sandiaga Uno 30,9 persen. Selisihnya hampir 28 persen, atau tepatnya 27,7 persen.

"LSI kelihatannya kan bekerja untuk paslon Jokowi-Ma'ruf Amin. Tidak heran jika setiap merilis survei selalu menempatkan paslon itu sebagai pemenang," kata juru debat BPN Prabowo-Sandiaga, Saleh Daulay, kepada wartawan, Rabu (6/3/2019).

Saleh mengatakan BPN tidak terpengaruh oleh hasil survei LSI. Dia menyebut BPN mengacu pada survei internal yang menyatakan peluang Prabowo-Sandiaga untuk menang Pilpres 2019 sangat tinggi.

"BPN tidak terpengaruh sama sekali. Ada survei internal yang dimiliki sebagai pembanding. Hasilnya jauh berbeda. Peluang Prabowo-Sandi sangat tinggi. Diperkirakan, dalam waktu dekat surveinya justru bisa di atas pasangan Jokowi-Ma'ruf," ujar politikus PAN itu.

Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin memberi bantahan. Menjawab tudingan kubu pasangan nomor urut 02 tersebut, timses Jokowi-Ma'ruf menegaskan tak pernah menyewa jasa LSI Denny JA sebagai lembaga survei.

"Nggak ada kita kerja pakai LSI. Kita nggak pakai LSI Denny JA untuk survei. Kita kan laporkan juga ke KPU setiap pengeluaran kita, nggak ada anggaran kita untuk mereka, LSI," ujar juru bicara TKN Jokowi-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga, kepada wartawan, Rabu (6/3/2019).

Arya pun menyinggung hasil survei lembaga-lembaga lain yang angka elektabilitas Jokowi vs Prabowo tak jauh berbeda dengan LSI Denny JA. Menurutnya, selisih elektabilitas Jokowi dan Prabowo memang di kisaran angka 20 persen.

"Soal survei kan memang berkisar segitu ya, sekarang antara 20. Kalau LSI kelihatan memang ambang tinggi yang mereka dapat. Rata-rata yang kita dapat ambangnya sekitar 20 sampai 27. Angka 22, 25 juga ada, jadi memang segitu kisaran angkanya," jelas dia.

Bantahan juga disampaikan Denny JA. Ia menegaskan tak mungkin lembaga surveinya mempermainkan data dan melunturkan kredibilitas yang dengan susah payah dibangun.

"Mustahil kami mengorbankan kredibilitas yang dibangun lebih dari 15 tahun saya membangun ini untuk dikorbankan hanya demi pilpres. Kan bisa dibanding-bandingkan dengan lembaga survei kredibel lainnya. Sudah ada delapan lembaga survei yang mempublikasikan hasil surveinya. Itu kan nggak banyak beda juga," urai Denny kepada detikcom, Rabu (6/3).

Denny mengungkapkan hasil survei lembaganya selama ini juga tidak jauh berbeda dengan hasil lembaga survei kredibel lainnya bahwa Jokowi selalu muncul sebagai pemenang. Jadi tidak layak LSI dicurigai berpihak kepada salah satu paslon.

"Justru yang beda-beda itu yang harus dicurigai, kenapa beda sendiri. Justru lembaga lain yang harus dicurigai, lembaga survei yang kemarin sore," ucapnya.

Denny menuturkan LSI merupakan lembaga yang memiliki kredibilitas tinggi. Selama 15 tahun berdiri, LSI juga telah meraih berbagai penghargaan, baik tingkat nasional maupun internasional.

"LSI itu lembaga survei paling tua, yang sampai saat ini masih aktif. Yang bisa dilihat jejaknya di Google. Semua rekor survei paling akurat, quick count paling akurat, dan juga quick count paling cepat. Semua rekor Muri itu diborong oleh LSI. Bahkan penghargaan internasional dari Times Magazine, dari Guinness Book of Record, itu penghargaan dunia, semua ada di LSI yang nggak ada di negara lain," tutur Denny.

"Mustahil dengan record setinggi itu kita memain-mainkan data," imbuhnya.

Di sisi lain, Denny mengaku tak heran atas respons dari BPN Prabowo-Sandiaga. Sebab, respons tersebut kerap dilontarkan oleh pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh hasil survei yang keluar.

"Respons yang sering kali dirugikan itu juga standar. Lembaga tidak dipercaya, pendukung si ini, dan lain sebagainya," sebut Denny. ( Detik )

loading...
Show comments
Hide comments
No comments:
Write comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Latest News

Back to Top