Nah Loh...!!! Buntut Perampasan HP Milik Wartawan, Organisasi Jurnalis Indramayu Siap Gelar Aksi

PANTURAPOS.COM - Perseteruan antara journalis indramayu versus pihak RSUD Indramayu berbuntut panjang. Ketua Aktivitas Jurnalistik Independen Indonesia (AJII) Kabupaten Indramayu, Raskhana S Depari menegaskan, akan turun ke jalan menyoroti adanya tindakan kekerasan yang menimpa wartawan. Menurutnya, tindakan arogan yang dilakukan oknum bidan RSUD Indramayu, Irta ini dianggap keterlauan dan sudah penghinaan terhadap profesi pers. “Kita pasti demo, kita sudah siapkan semua rencana, alat peraga dan pelengkapan lainnya untuk demo, hari Senin (25/9) nanti. Demo, harga mati,”tegas Raskhana yang juga dipercaya sebagai Koordinator Lapangan, unjukrasa nanti.

Dalam tuntutannya pihaknya tetap bersitegas agar Bupati Indramayu, Hj Anna Sophana segera mencopot Direktur Utama (Dirut) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Indramayu Hj. Lisfayeni dari jabatannya. Desakan ini mengingat, dr Lisfayeni dianggap bertanggungjawab atas ulah oknum Bidan Irta, pegawai RS tersebut yang diduga berani merampas HP milik Kabiro HU Suara Cirebon, Ade Irawan.

Menurutnya, kesalahan anak buahnya harus ditanggug oleh pimpinanya, apalagi perbuatan oknum bidan Irta ini sudah menyalahi aturan. “Kita sudah rapat bersama, kita turun kejalan hari Senin (25/9) dengan rute berkumpul dikantor AJII jalan Siapem Indramayu, lalu kita melewati arah jalan DI Panjaitan dan berputar kearah jalan Murah Nara tempat RSUD Indramayu.

Kita kemudian Orasi di Kantor Bupati Indramayu dan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Indramayu, dan orasi kita tutup ke Polres Indramayu untuk memberikan berkas demo dan pelaporan kasus perampasan HP dengan kekerasan yang dialami wartawan, Ade Irawan,”tegas Raskhana yang berjanji Jumat (22/9) surat pemberitahuan aksi unjuk rasa akan dikirim ke Polres Indramayu dan sejumlah wadah organisasi kewartawanan di Indramayu.. 

Suara lantang dan kecaman tegas disampaikan Korda LSM Pelopor Indramayu, M Nanang Supriyadi. Dirinya bersama semua anggotanya yang menyebar disetiap kecamatan akan ikut mendukung turun kejalan bersama aktivis jurnalis menyuarakan stop kekerasan jurnalis. Dirinya menilai, kinerja Dirut RSUD Indramayu gagal karena tidak menghargai wartawan serta dianggap gagal memenej karena buktinya dilapangan para petugasnya tidak sopan dan arogan kepada keluarga pasien, bahkan berani merampas HP milik Ade Irawan yang digunakan untuk merekam oknum bidan Irta saat marah-marah, arogan dan tidak sopan.

Lebih lanjut pihaknya meminta, Bupati Indramayu dan unsur dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) segera melakukan sidak melihat fakta buruknya pelayanan pasien di RSUD Indramayu.

“Keburukan yang mengakar ini patut untuk dibongkar untuk kebaikan semua, caranya, yang pertama ada perombakan pegawai disana yang dimulai dengan Bupati segera mencopot Dirut RSUD dan oknum-oknum pegawai yang dianggap bermasalah,”jelas Nanang.

Nanang juga menyayangkan ucapan Dirut RSUD Indramayu yang dianggap gegabah dan asal bunyi, menurutnya Dirut itu adalah pejabat publik yang omongannya harus bisa dipertanggungjawabkan. Mereka ngomong ke satu media Online bahwasannya, saudara Chong Soneta yang saat itu datang ke RS memaksa dan mengintimidasi pihak jaga RS agar pasien Supinah bisa dipulangkan.

Padahal faktanya tidak demikian, yang bersangkutan tidak memaksa begitu Dirut Lisfayeni bilang, pulangnya ditunda besok, dan memang buktiya pasien pulangnya besok siangnya. Yang lebih parah, perkataan dr Lisfayeni yang menuding wartawanSC ini menilep uang jaminan dari pasien Rp 2,5 juta. “Bukti kwitansi pembayarannya ada kok, masa dituduh nilep uang.Tolong hati-hati dalam memberikan keterangan dan jangan fitnah. Ini sudah fitnah dan masuk pidana murni yang perlu ditindaklanjuti,”terangnya.

Siswo Prayitno, anggota PWI Indramayu yang turut hadir dalam rencana rapat demo mendukung adanya demo nanti, Menurutnya, demo menyuarakan kebebasan pers yakni ancaman perampasan dengan kekerasan yang menimpa Ade Irawan adalah wajar. Kita tunjukan kekuatan, kita demo, pasti. Apa pihak RS yang kuat apa kita insan pers ,”sambung Siswo.

Tindakan oknum bidan Irta yang arogan, tidak sopan dan gegabah berani merampas HP wartawan yang sedang liputan ini mengundang tanda tanya besar rahasia dibalik perampasan HP ini, dan itu sama saja menggambarkan buruknya RSUD Indramayu yang tak mau terekpos. Apalagi, saya tahu sendiri, ternyata benar pasien yang habis di cesar, Supinah dirawat di lorong ruangan gedong Gincu 3, yang menggambarkan buruknya pelayanan dan tidak manusiawi.

“Kami mendesak agar pimpinan di RSUD Indramayu tegas memberikan tindakan kepada anak buahnya yang bersikap arogan. Kalau tidak bisa, yah jelas pimpinan dan anggotanya bersekongkol dalam kejahatan ini, kita layak untuk melawan dan setuju kita demo. #Save Journalist,”kritik Wangidin ST, Ketua Bidang Pembelaan Wartawan di HIPWI (Himpunan Insan Pers Wartawan Indonesia) Kabupaten Indramayu dan Agus Suherman, aktivis anti korupsi Indramayu.

Seperti diberitakan sebelumnya, salah satu keluarga pasien yang dirawat di RSUD Indramayu merasa geram dengan kelakuan petugas piket, bidan Irta yang dianggap arogan. Selain tidak sopan, bidan Irta kerap marah-marah sama keluarga pasien sehingga membuat pelayanan buruk. Bukan hanya kepada pasien, Bidan Irta ini juga berlaku arogan terhadap wartawan yang juga sekaligus Kabiro HU. Suara Cirebon, Ade Irawan.

Sikap arogansi bidan Irta ini ditunjukan kepada keluarga pasien Supinah dan Kabiro HU Suara Cirebon, Kamis (14/9) saat keduamya menanyakan perihal kondisi pasien yang diajukan untuk proses kepulangan pasien Supinah. "Ngapain dirawat lama-lama disini, wong dirawatnya aja dilorong rumah sakit. Padahal, istri saya ini adalah pasien yang melahirkan dengan proses cesar, bahkan anak saya yang dilahirkan meninggal dunia dalam proses persalinan cesar. Saya terpaksa mengajukan pulang karena pelayanan disini sangat buruk,"terang Warsito, warga Desa Lamaran Tarung Kecamatan Cantigi-Indramayu yang tak lain adalah suami dari pasien Supinah.

Menurutnya, istrinya yang sempat dirawat diruang ICU selama 6 hari, begitu sudah selesai di cesar, dipindahkan ke ruang Gedong Gincu 3. Namun petaka datang, petugas diruang ini yang tak lain adalah bidan Irta sikapnya semenjak mereka masuk diruangan Gincu 3, tidak sopan dan berlaku arogan kepada semua pasien disini termasuk istrinya. "Kami kecewa dengan pelayanan yang buruk ini, makanya kami tak betah dan lebih baik istri saya bawa pulang. Ini sungguh buruk, masa pasien habis dicesar ditempatkan dilorong ruangan gedong gincu. Kami kwatir, setelah anak saya mati saat proses kelahiran, malah istri sayanya yang memburuk karena disini ga terurus dengan baik dan pelayanannya sangat buruk,"terang Warsito.


Puncaknya, arogansi sikap bidan Irta ini saat Kabiro HU Suara Cirebon mendatangi ruang ini untuk mengambil gambar bidan Irta yang marah-marah tidak sopan dan menghina Pers lewat HP-nya. Bidan Irta langsung marah sambil merampas HP milik Kabiro, bahkan tangan Kabiro Ade Irawan sempat dipukul dan dicakar karena mempertahankan HP yang mau dirampas Irfa, hingga baju lengan Kabiro Ade robek. "Perkataan bidan Irta ini sangat menghina pers dan perlakuan bidan Irta yang marah-marah ke keluarga pasien ini menunjukan bukti bahwa bidan Irta ini sangat arogan. Kami mengutuk keras perbuatan bidan Irta ini dan tidak terima karena sudah menghina dan menghalang-halangi tugas Pers,"tegas Kabiro, Ade Irawan. (Kiriman chong soneta)
Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.

Recent Post