Waduh, Habib Novel Sebut Jokowi Menyimpang Dari Ajaran Islam Dan Langgar Fatwa MUI

JAKARTA - Sekretaris Dewan Syuro Front Pembela Islam (FPI) DPD DKI Jakarta, Habib Novel Chaidir Hasan Bamukmin memprotes pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang meminta agar persoalan politik jangan dicampur adukkan dengan agama, demi menghindari konflik antar umat.

Menurut Habib Novel, pernyataan Jokowi itu menyesatkan bahkan menyimpang dari ajaran agama Islam. Hal itu karena Jokowi telah melanggar Fatwah dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) nomor 7 Tahun 2005.

"Jokowi yang menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya. Melanggar fatwa MUI, dikatakan (Jokowi) politik harus dipisahkan dari agama. Ini pernyataan sesat dan menyesatkan," kata Habib Novel kepada Netralnews, Minggu (27/3/2017).

"Padahal sudah jauh-jauh hari sudah difatwakan tahun 2005 nomor 7, sekularisme, pluralisme, liberalisme, itu bukan ajaran Islam, haram," tandasnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi saat meresmikan Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Jumat (24/3/2017), meminta agar persoalan politik dipisahkan dari agama, demi menghindari konflik antarumat.

Pernyataan Jokowi ini kemudian mendapat kritikan dari sejumlah pihak. Untuk meredam kesalahpahaman soal pernyataan Jokowi ini, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin kemudia mengklarifikasi.

Menurut Menag, konteks yang dimaksudkan Presiden adalah ingin memisahkan antara adanya motif dan akses buruk dari aktivitas politik dengan proses dan tujuan mulia dari agama.

"Hemat saya, Presiden ingin menegaskan bahwa tak boleh mencampuradukkan antara adanya yang buruk dari proses dan tujuan berpolitik dengan yang baik dari proses dan tujuan beragama," terang Menag, seperti dilansir dari laman Kementerian Agama (Kemenag), Minggu (26/3/2017).

Menag yakin bahwa Presiden menyadari betul realitas bangsa Indonesia yang religius, yang warganya selalu melandaskan diri dengan nilai-nilai agama dalam menjalani kehidupan kemasyarakatannya. Apalagi, lanjut Menag, pernyataan Presiden itu juga diiringi dengan pesan bahwa perbedaan adalah anugerah Allah bagi Indonesia yang harus dijaga.

Presiden menurut Menag justru mengingatkan semua untuk menjadikan agama sebagai sarana menjaga dan merawat keragaman karena hal itu adalah anugerah Allah.


"Pernyataan beliau haruslah dilihat dari konteks dan perspektif di atas," pungkasnya. (netralnews)
loading...

#Tags

Blogger
Disqus

1 comment

Yg nyimpang gigimu itu gigi piranha

Balas