Breaking News

Pendukung Agus – Sylvi Pada Eksodus, Inilah Penyebabnya...

JAKARTA – Salah satu yang menarik dari perkembangan Pilkada DKI 2017 adalah tren menurunnnya elektabilitas Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni dalam sejumlah survei terakhir.

Jika mengacu ke hasil survei Poltracking Indonesia yang dilakukan pada 24-29 Januari 2017, Agus-Sylvi mengalami penurunan 4,5 persen. Saat ini suara Agus-Sylvi hanya 25,75 persen (posisi terendah dari dua paslon lain). Padahal, survei sebelumnya, Agus-Sylvi beroleh 30,25 persen.

Mayoritas pendukung Ahok-Sylvi eksodus ke pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Hal ini dapat dilihat dari hasil survei yang dilakukan Litbang Kompas pada pada kurun 28 Januari-4 Februari 2017. Dalam survei kali ini, elektabilitas Agus-Sylvi sebesar 28,2 persen. Angka tersebut menurun 8,9 persen jika dibandingkan survei Litbang Kompas pada 7-15 Desember 2016 yang menunjukkan elektabilitas Agus-Sylvi sebesar 37,1 persen.

Hasil penelitian mengungkapkan terdapat sekitar 25 persen pendukung Agus-Sylvi yang mengalihkan dukungannya kepada pasangan Anies-Sandi, dan hanya 9 persen yang beralih ke Ahok)-Djarot, sedangkan 4 persen berubah menjadi pemilih bimbang.

Agus-Sylvi hanya menyisakan 62 pendukung setia yang bertahan sejak survei Desember 2016 lalu memilih pasangan ini.

Perubahan pola dukungan tidak lepas dari situasi politik yang mengemuka, yang jika dicermati ada sejumlah sebab bergesernya dukungan untuk Agus-Sylvi secara besar-besaran.

Gagal saat debat

Pertama adalah kegagalan Agus menampilkan visi-misi yang orisinal, inovatif dan fungsional saat debat resmi Pilkada yang digelar KPU, yang sudah digelar dua kali dan nanti malam adalah sesi terakhir sebelum pencoblosan pada 15 Februari.

Mangkirnya Agus dari beberapa debat informal di stasiun TV—yang dikatakannya lebih memilih menggunakan waktu untuk menjumpai pemilih—sepertinya dinilai sebagai bukti kurangnya persiapan Agus.

Ketika debat resmi dimulai, Agus tampak bukan lawan sepadan bagi Anies, yang berlatar akademis dan sempat menduduki jabatan menteri pendidikan. Orang boleh menohok Anies yang gagal menjadi menteri. Akan tetapi, mulut Anies tidak hanya dapat mengumbar senyum manis, tetapi kata-kata yang keluar darinya dapat menghipnotis. Anies bahkan pantas menjadi guru public speaking bagi Agus.

Sementara itu, Ahok adalah birokrat dan eksekutor ulung. Dia sekarang tampak lebih tenang. Ditanya soalan apa pun tentang pemerintahan, Ahok seolah serba tahu jawabannya dari pengalaman. Meskipun tak selihai Anies dalam beretorika, Ahok tetap membuat orang manggut-manggut jika mendengarkan idenya.

Isu korupsi Sylviana

Dugaan kasus korupsi yang mengepung pasangan Agus, Sylviana Murni menjadi topik panas untuk menurunkan pamor pasangan nomor urut 1 itu. Kasus ini dieksploitasi besar-besaran oleh tim sukses lawan di lini massa, terutama kubu Ahok-Djarot.

Pertama, Sylvi diduga terlibat kasus dugaan korupsi pembangunan Masjid Al Fauz yang berada di lingkungan Kantor Walikota Jakarta Pusat. Masjid tersebut dibangun ketika Sylviana yang kala itu menjabat Wali Kota Jakarta Pusat.

Sebelum digunakan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengaudit pembangunan Masjid Al Fauz. Menurut temuan BPK, ada kelebihan anggaran sebesar Rp108 juta dari pembangunan Masjid Al Fauz tahun 2011.

Sylviana tidak menampik bahwa dirinya turut terlibat dalam pembangunan masjid dua lantai tersebut. Namun, setelah dana cair, Rp 27 m, dia mengaku dirotasi menjadi Asisten Pemerintahan Pemprov DKI Jakarta. Kasus ini berada di tangan Bareskrim Polri.

Belum usai penyelidikan kasus ini, Sylvi kembali berurusan dengan Penyidik Direktorat Tindak Pidana Korupsi (Dittipidkor) Bareskrim Polri, yang sudah mengeluarkan surat panggilan terhadap dirinya pada hari ini, Jumat (20/01/2017). Dia dipanggil untuk diperiksa terkait kasus dugaan dana bansos Pemerintah Provinsi DKI Jakarta 2014 dan 2015 untuk Kwarda Gerakan Pramuka.

Bersalah atau tidak, isu korupsi ini telah berhasil mencoreng muka dan menggerus suara pasangan Agus-Sylvi. Yang paling diuntungkan dari isu korupsi adalah Anies-Sandi karena sebelumnya Ahok santer disebut-sebut terlibat dalam korupsi pembelian lahan rumah sakit Sumber Waras. Praktis, hanya Anies-Sandi yang masih suci.

Digerus lewat SBY

Agus tidak bisa dilepaskan dari sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Citra baik-buruk SBY pasti lekat dengan suami Annisa Pohan tersebut.

Akhir-akhir ini ada beberapa isu yang mendera SBY, yang pasti akan berdampak negatif terhadap citra Agus dan mempengaruhi persepsi pemilih. Bahkan, sangat mungkin faktor eksternal ini yang lebih berpengaruh dari dua musabab di atas. Pertama adalah kasus korupsi yang menjerat beberapa pembantu SBY. Di saat anak SBY terlibat dalam kontestasi Pilkada DKI, dua menteri di eranya ditetapkan tersangka dan ditahan, yakni Siti Fadillah Supari dan Dahlan Iskan.

Mantan Menkes Fadilah Supari (66) disangka mendapat jatah dari hasil korupsi pengadaan Alkes I berupa Mandiri Traveller's Cheque (MTC) senilai Rp1,275 miliar pada 2007. Kasus tersebut sebelumnya ditangani oleh Polri, tapi akhirnya diambil KPK. Siti Fadilah dijerat Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 juncto Pasal 15, Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 56 ayat 2 KUHP. Dia ditahan pada 24 Oktober 2016.

Sementara itu, Dahlan terjerat tiga kasus dan sudah ditahan sejak 27 Oktober 2016 karena menjadi tersangka penjualan aset milik PT Panca Wira Usaha (PWU), badan usaha milik daerah (BUMD) Pemprov Jawa Timur. Selain itu Dahlan juga menjadi tersangka dugaan korupsi pembangunan 21 gardu induk di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara oleh Kejati Jakarta. Terbaru, Dahlan ditetapkan tersangka  oleh Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kejaksaan Agung pada 2 Februari 2017 karena dugaan korupsi dalam proyek pengadaan 16 mobil listrik untuk konferensi APEC.

Tak cukup pada Dahlan, Andi Zoelkarnaen Mallarangeng alias Choel Mallarangeng beberapa hari lalu juga resmi menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang diduga terlibat dalam korupsi Hambalang, yang melibatkan kader-kader utama Partai Demokrat, termasuk menteri era SBY Andi M Mallarangeng.

Hembusan isu korupsi yang simultan pasti berpengaruh terhadap citra partai Demokrat dan SBY sebagai pendukung utama Agus-Sylvi. Meskipun orang baru di dunia politik—yang memungkinkan tak punya kasus di masa lalu, Agus tetap terseret. Adalah fakta bahwa kasus-kasus seperti itu digunakan oleh para pendukung lawan, terutama paslon Ahok-Djarot, untuk melakukan serangan, yang sangat massif lewat media sosial.

Kedua adalah beberapa efek sinetron yang coba dimainkan SBY tetapi gagal. Pertama adalah isu penyadapan yang membuat SBY baper di medsos hingga menggelar jumpa pers.

Dari kasus penyadapan, SBY mencoba menarik simpati publik dengan menganggap seolah dirinya korban yang dizalimi.

Selain itu, intrik politik yang hendak dibangun SBY dengan sinetron mode adalah kesulitannya bertemu Presiden Jokowi. SBY membangun kesan seolah-olah dirinya mantan yang tak diinginkan dan disia-siakan oleh penguasa saat ini.

Terbaru adalah soal demo ratusan mahasiswa dengan jas almamater ke kediaman Presiden Indonesia ke-6 tersebut di Kuningan, Jakarta. Demo mahasiswa labil ini memang dinilai banyak pihak salah alamat sekaligus menegaskan mereka hanya dijadikan pion oleh tangan-tangan mahir dalam bermain catur politik.

Seharusnya SBY bisa memanfaatkan isu ini, namun lagi-lagi efek sinetron yang dimainkannya tampak blunder. Curhatan SBY di Twitter dan kemudian konferensi pers disoraki dan menjadi olok-olok pendukung Jokowi dan Ahok di media sosial.

Bahkan, pidato SBY saat acara Dies Natalis ke-15 Partai Demokrat di Jakarta Convention Center pada Selasa 7 Februari tidak mampu menghentikan gencarnya bullying terhadapnya di media sosial.

Tiga musabab di atas sepertinya cukup sulit di atasi mengingat mepetnya waktu pemilu yang tinggal lima hari lagi. Satu-satunya kesempatan yang bisa dimanfaatkan Agus adalah pada debat sesi terakhir nanti malam.


Kedua, yang mungkin menyelamatkan elektabilitas Agus adalah pernyataan Mendagri untuk memberhentikan Ahok menyusul selesainya masa cuti petahana itu pada 11 Februari. Ahok seharusnya diberhentikan sementara dari jabatannya karena menjadi tersangka kasus penodaan agama, dengan ancaman 5 tahun. Akan tetapi, sampai hari ini, ada kesan Mendagri Tjahjo Kumolo yang juga politisi PDIP (partai utama pendukung Ahok) mengulur-ulur proses ini. (rima)
loading...

3 comments:

  1. ION-QQ POKER
    kami dari agen poker terpercaya tahun ini
    Hanya dengan deposit dan withdraw 20.000 anda sudah dapat berrmain .. di sini kami

    menyediakan 4 permainan : bandar poker , play bandarQ , play domino99 dan play

    poker .. tunggu apalagi gan ayo segera daftar kan diri anda dan menangkan ratusan

    juta rupiah | PIN BB : 58ab14f5

    ReplyDelete
  2. AJO_QQ poker
    kami dari agen poker terpercaya dan terbaik di tahun ini
    Deposit dan Withdraw hanya 15.000 anda sudah dapat bermain
    di sini kami menyediakan 7 permainan dalam 1 aplikasi
    - play aduQ
    - bandar poker
    - play bandarQ
    - capsa sunsun
    - play domino
    - play poker
    - sakong
    di sini tempat nya Player Vs Player ( 100% No Robot) Anda Menang berapapun Kami
    Bayar tanpa Maksimal Withdraw dan Tidak ada batas maksimal
    withdraw dalam 1 hari.Bisa bermain di Android dan IOS,Sistem pembagian Kartu
    menggunakan teknologi yang mutakhir dengan sistem Random
    Permanent (acak) | pin bb : 58cd292c.

    ReplyDelete
  3. Promo www.Fanspoker.com :
    - Bonus Freechips 5.000 - 10.000 setiap hari (1 hari dibagikan 1 kali) hanya dengan minimal deposit 50.000 dan minimal deposit 100.000 ke atas
    - Bonus Cashback 0.5% Setiap Senin
    - Bonus Referal 20% Seumur Hidup
    || bbm : 55F97BD0 || WA : +855964283802 || LINE : +855964283802 ||

    ReplyDelete