Breaking News

Diduga Cuci Uang GNPF MUI, Ustad Adnin Diperiksa Bareskrim, Rumahnya Digeledah

JAKARTA - Pendiri Yayasan Keadilan Untuk Semua Adnin Armas mengaku diberondong banyak pertanyaan dari pagi sampai sore saat diperiksa di Badan Reserse dan Kriminal Polri, Jumat, 10 Februari 2017.

"Banyak yang ditanyakan, di antaranya pencucian uang, kepemilikan yayasan, kenal di mana dengan Bachtiar Nasir," kata Adnin di rumahnya, Sabtu, 11 Februari 2017. "Tapi, ujung-ujungnya (ditanya) makar."

Adnin diperiksa karena lembaga yang dikelolanya, Yayasan Keadilan Untuk Semua menampung dana yang dikumpulkan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Indonesia. GNPF-MUI diduga melakukan tindak pencucian uang sebesar Rp 3,8 miliar.

Dari semalam hingga Sabtu dini hari 11 Februari 2017, polisi yang tidak berpakaian dinas menggeledah rumah Adnin di Jalan Metro Duta Raya Blok CC1 nomor 6 RT3 RW23 Kelurahan Baktijaya, Kecamatan Sukmajaya. Dari penggeledahan tersebut polisi menyita dua buku tabungan BNI Syariah dan stempel Yayasan Keadilan Untuk Semua.

Adnin mengaku tidak mengerti maksud tudingan dana untuk makar oleh polisi. Menurutnya, makar merupakan sesuatu yang luar biasa. Bahkan, membutuhkan kekuatan logistik, dan dana yang besar. "Tidak-lah untuk makar," ucap Adnin.

Menurutnya lagi, makar merupakan suatu tindakan luar biasa yang memerlukan kekuatan militer. "Ini hanya mengkritik. Tapi jangan disikapi dengan bahasa berlebihan," ujarnya.

Ia mengungkapkan dana yang dikumpulkan GNPF-MUI untuk aksi Bela Islam 4 November dan 2 Desember, sebanyak Rp 3,8 miliar dari 4.000 lebih donatur. Dana tersebut digunakan untuk membantu umat Islam, yang ikut aksi damai tersebut.


Dalam aksi Bela Islam 411 dan 212, kata dia, tidak ada yang mendesainnya. Bahkan, ia mengaku takjub begitu banyak umat Islam yang ikut aksi tersebut. "Tidak ada yang menggerakan. Itu karena kemauan umat sendiri."
TEMPO.COM
loading...

No comments