Sylviana Dikepung Kasus Korupsi, Nama Ahok Semakin Kuat Sebagai Pejabat Bersih

JAKARTA  – Dugaan kasus korupsi yang mengepung calon wakil gubernur Sylviana Murni menjadi topik panas untuk menurunkan pamor pasangan nomor urut 1. Pihak yang paling memanfaatkan momentum ini, sekaligus diuntungkan, adalah kubu Ahok-Djarot.

Hal itu tampak dari eksploitasi kasus ini oleh tim sukses di lini massa. Pertama, Sylvi diduga terlibat kasus dugaan korupsi pembangunan Masjid Al Fauz yang berada di lingkungan Kantor Walikota Jakarta Pusat.

Masjid tersebut dibangun ketika Sylviana yang kala itu menjabat Wali Kota Jakarta Pusat. Setelah mantan none Jakarta itu dipromosikan menjadi Asisten Pemerintahan Pemprov DKI, posisinya digantikan oleh Saefullah yang saat ini menjabat Sekretaris Daerah (Sekda) DKI.

Masjid Al Fauz diresmikan oleh Fauzi Bowo yang saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Peresmian masjid dilakukan pada 30 Januari 2011.

Terkait tudingan adanya korupsi dalam pembangunan masjid tersebut, Sekda DKI Jakarta, Saefullah menjelaskan ada kelebihan anggaran dalam pembangunan Masjid Al Fauz di kompleks kantor Wali Kota Jakarta Pusat.

Saefullah menjelaskan, pembangunan Masjid Al Fauz dimulai pada 3 juni dengan kontrak sebesar Rp. 27 miliar. Pembangunan sempat berhenti, tapi tahun 2011 ada tambahan anggaran lagi sebesar Rp. 5,6 miliar. Masjid itu akhirnya selesai dibangun di tahun itu juga.

Sebelum digunakan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengaudit pembangunan Masjid Al Fauz. Menurut temuan BPK, ada kelebihan anggaran sebesar Rp. 108 juta dari pembangunan Masjid Al Fauz tahun 2011.

Sylviana sendiri tidak menampik bahwa dirinya turut terlibat dalam pembangunan masjid dua lantai tersebut. Namun, setelah dana cair, Rp 27m, dia mengaku dirotasi menjadi Asisten Pemerintahan Pemprov DKI Jakarta. Kasus ini berada di tangan Bareskrim Polri.

Belum usai penyelidikan kasus ini, Sylvi kembali berurusan dengan Penyidik Direktorat Tindak Pidana Korupsi (Dittipidkor) Bareskrim Polri, yang sudah mengeluarkan surat panggilan terhadap dirinya pada hari ini, Jumat (20/01/2017). Dia dipanggil untuk diperiksa terkait kasus dugaan dana bansos Pemerintah Provinsi DKI Jakarta 2014 dan 2015 untuk Kwarda Gerakan Pramuka.

Isu korupsi ini tentu saja mencoreng muka dan sewaktu-waktu dapat menggerus suara pasangan Agus-Sylvi yang sampai survei terakhir menjadi ancaman terbesar Ahok-Djarot, ketimbang Anies-Sandiaga yang konsisten di urutan terakhir.

Isu korupsi yang menyasar Sylvi akan menguatkan pencitraan Ahok sebagai pejabat yang bersih. Sebelumnya, partai Demokrat sudah habis-habisan dihantam skandal korupsi, dengan kasus terakhir yang paling menghebohkan yakni Dahlan Iskan dan siti Fadilah Supari (dua menteri era SBY).

Hantaman isu korupsi bakal berakibat pada ketidakpercayaan publik, sama seperti anjloknya suara partai Demokrat dalam pemilu 2014 karena skandal korupsi rombongan pengurus DPP Demokrat, mulai dari Anas Urbaningrum, Muhammad Nazaruddin, Angelina Sondakh dan sederet politisi senior lainnya.

Kali ini, di tengah memanasnya kontestasi Pilkada, isu najis seperti ini kembali menyeruak. Ada yang bilang, isu-isu korupsi terkadang sengaja diungkap dengan cara menunggu momentum yang tepat oleh pemegang kekuasaan, menunggu kalkulasi untung-rugi secara politik—semoga ini tidak benar.


Harus diakui bahwa sampai hari ini, kasus yang merintangi jalan politik Demokrat, pascakuasa selama satu dekade, adalah korupsi. Apakah dengan isu ini Demokrat melalui Agus-Syvi bakal kembali terpuruk? Kita tunggu saja hasil pencoblosan pada 15 Februari mendatang.

RIMANEWS.COM
loading...

#Tags

Blogger
Disqus

1 comment

F4ns Bett1ng agent bola terpercaya di Indonesia
buruan daftar 5ee80afe

Balas