Kasus Rizieq Di Jabar, Dari 'Campur Racun' Sampai Soal Tanah

JAKARTA - Kepala Polda Jawa Barat, Inspektur Jenderal Anton Charliyan, menyampaikan ada yang melaporkan pemimpin Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Syihab, soal ucapan bahasa Sunda  sampurasun yang diplesetkan menjadi "campur racun". "Sampurasun itu dulu ada yang menghentikan, tapi sekarang dilaporkan lagi," kata Anton di PTIK, Jakarta, Rabu, 25 Januari 2017.

Anton mengatakan, pelapornya adalah gabungan dari berbagai elemen. "Hari ini (kemarin) mereka mengadakan audiensi ke Polda Jawa Barat untuk melaporkan kembali "campur racun" itu karena bagi masyarakat Sunda, itu menyakitkan," kata Anton, Rabu, 25 Januari 2017. "Jadi tolong kalau ke sana untuk kedua kalinya jangan menyakiti hati masyarakat Sunda,."

Selain dua kasus yang menyeret Rizieq, ada pula pihak yang melaporkannya dalam kasus tanah. Namun, kata Anton, polisi masih menyelidikinya. Laporan itu masuk seminggu lalu. Menurut Anton, kasus itu adalah dugaan penyerobotan dan pemilikan tanah negara tanpa hak. "Kami masih menyelidiki. Itu kan baru dugaan," ujarnya.

Anton juga menjelaskan tanah itu adalah tanah Perhutani dengan alamat di Megamendung, Bogor,  dekat rumah Rizieq.

Kasus lain yang menimpa Rizieq yaitu soal penghinaan Pancasila. iRzieq sebagai terlapor sudah diperiksa oleh penyidik Polda Jawa Barat pada 12 Januari 2017. Ketika itu, Rizieq dicecar dengan 22 pertanyaan. 

Kasus pencemaran nama dan penghinaan simbol negara dilaporkan oleh Sukmawati Soekarnoputri ke Bareskrim Mabes Polri. Pada November 2016, Mabes Polri melimpahkan kasus tersebut ke Polda Jawa Barat.


TEMPO.CO
loading...

#Tags

Blogger
Disqus

1 comment

Memang benar FPI adl Ormas Intoleransi , tapi bukan Intolerasi thd Agama tapi Intoleransi thd Idiologi yaitu Komunis maka byk Komunis muda sekarang yg ingin membubarkan FPI. . . Wahai generasi muda jangan mau dibodohi PKI selamanya.

Balas