Warga Winduhaji Kembangkan Budidaya Kroto Pakai Toples

KUNINGAN – Jatuh bangun menjalani berbagai bidang usaha tak membuat Sutrisno (40) warga Kelurahan Winduhaji, Kecamatan Kuningan, patah arang. Berkat keuletan dan kegigihannya, dia kini berhasil menjalani bisnis yang tergolong unik dan tak banyak digeluti orang, yaitu budi daya kroto semut rangrang.

Dengan memanfaatkan sepetak kamar kosong di belakang rumahnya yang tak terpakai, Sutrisno memelihara ribuan semut rangrang dengan media toples sebagai sarangnya. Atas usahanya ini, Sutrisno pun kini bisa meraup untung besar dengan omzet penjualan mencapai Rp 5 juta per bulan.

“Saya tidak hanya menjual kroto, namun juga menyediakn bibit kroto. Dari satu toples bibit kroto seharga Rp 40.000, pembeli bisa mengembangkannya sendiri sehingga bisa menghasilkan kroto sebanyak dua toples,” kata Sutrisno

Awal mula ketertarikan Sutrino menjalani bisnis kroto ini sekitar tiga tahun yang lalu ketika banyak orang ramai-ramai hobi memelihara burung kicau. Bermunculannya kios-kios penjual pakan burung salah satunya kroto membuka pikiran Sutrisno untuk menjadi pemasok telur semut rangrang tersebut.

Berbekal rasa penasaran, Sutrisno kemudian mencari informasi tentang kroto. Hingga akhirnya dia menemukan artikel di internet tentang cara budi daya semut rangrang di Tegal sekaligus menyediakan pelatihannya.

“Dari artikel di internet tersebut, saya tertarik dan berniat menjalani usaha kroto. Dengan modal biaya Rp 1,5 juta, saya berangkat ke Tegal untuk mengikuti pelatihan dan mendapatkan bibit sebagai percobaan di rumah,” tutur Sutrisno.

Awal menjalani usaha kroto ini pun ternyata tidak semudah yang diperkirakan Sutrisno. Berbagai kendala ditemukan hingga membuat budi daya kroto yang dijalaninya nyaris gagal. Namun berkat keuletan dan kegigihan Sutrisno, berbagai kendala tersebut perlahan berhasil diatasi dan akhirnya usaha krotonya pun berjalan hingga sekarang.

“Karakter semut rangrang adalah mereka hidup berkoloni. Ketika kita tidak memahami karakter ini dan mencampur semua semut rangrang dalam satu wadah, menyebabkan mereka saling berkelahi dan akhirnya banyak yang mati. Persoalan ini yang tidak saya dapat di pelatihan,” kata Sutrisno.

Dari pengalaman berharga tersebut, kini Sutrisno memiliki sekitar 500 toples bibit kroto di kadang kecil sudut rumahnya. Tak hanya itu, Sutrisno pun tengah mencoba mengembangkan budi daya semut rangrang dengan media alam untuk memenuhi kebutuhan kroto yang semakin hari semakin banyak.

“Dengan media alam, otomatis produksi kroto lebih banyak karena semut tumbuh dan berkembang biak normal secara alami. Dari lahan berukuran 4×6 meter, saya punya sekitar 30 sarang semut rangrang dan masih memungkinkan untuk bertambah,” kata Sutrisno.

Tingginya permintaan kroto saat ini cukup membuat Sutrisno kewalahan untuk memenuhi permintaan yang sebagian besar berasal dari luar Kuningan seperti Ciamis, Cirebon, Tasikmalaya, Bandung bahkan Brebes. Sutrisno pun membuka pintu lebar-lebar bagi masyarakat yang ingin mengikuti jejaknya berbisnis kroto untuk datang ke rumahnya di Kelurahan Winduhaji, Lingkungan Bubulak, RT 2/9, Kecamatan Kuningan, atau bisa menghubungi nomor telepon 081222221599.

“Peluang pasarnya masih luas dan siapa saja bisa menjalani usaha ini, karena perawatannya yang tergolong mudah dan simpel. Namun ada beberapa trik yang harus dikuasai, sehingga untuk lebih leluasa silakan ngobrol di rumah,” ujar Sutrisno.


(radarcirebon)
loading...

#Tags

Blogger
Disqus

No comments