Breaking News

Wapres JK: Islam Indonesia Relatif Lebih Damai, Tapi...

BOGOR - Tiap hari di televisi kita melihat perang terjadi di negara-negara Islam. Itu kadang yang membuat kita bersedih hati. Jika demikian, muncul pertanyaan di mana letak nilai keislaman di situ. Artinya, dibanding di Timur Tengah, Islam Indonesia relatif lebih damai.

Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Presiden RI HM Jusuf Kalla saat didaulat membuka Halaqah Ulama ASEAN yang dihelat Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama di Hotel Salak The Heritage Bogor, Jawa Barat, Selasa (13/12) sore.

“Di Asia Tenggara kita lihat tidak ada perang, konflik, peledakan bom seperti banyak melanda negara muslim lain. Artinya, secara umum lebih aman. Karena itu, patut disyukuri tapi tidak berarti gembira. Walaupun ada tapi tidak seperti yang kita lihat secara massal di media cetak maupun elektronik, contohnya Irak dan Iran,” ujar Wapres JK mengawali pidatonya.

Kenapa Islam Asia Tenggara berbeda, lanjut JK, karena dari sejarahnya memang berbeda dengan di Timur Tengah atau di Afrika secara umum. Dalam sejarahnya, Islam masuk di Indonesia tidak melalui jalur peperangan, tapi jalur perdagangan. Para ulamanya juga tenang dalam menyampaikan ajaran agama.

“Para Walisongo dapat berbaur dengan masyarakat melalui pendekatan budaya. Sembilan wali ini mengajarkan Islam dengan lemah lembut. Tidak merubah secara drastis budaya yang ada. Selain itu terdapat banyak kesamaan Islam di kawasan Asia Tenggara, contohnya mulai dari madzhab yang tidak banyak pertentangan,” tandasnya.

Menurut JK, antara Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam tidak banyak memiliki perbedaan dalam aliran keagamaan. “Tidak seperti Irak, Afghanistan, yang tiap hari ada bom. Mereka sebenarnya tidak suka dengan kondisi tersebut,” ujar Mustasyar PBNU ini.

Dalam kesempatan tersebut, Wapres Kalla menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada pengasuh pesantren yang telah mendarmabaktikan segala bentuk pikiran demi kemajuan anak bangsa. Para ulama sangat berperan dalam menjaga adab dan akhlak para santri.

“Saya berharap tema ini bukan hanya diseminarkan, melainkan juga dilaksanakan demi keutuhan kita di ASEAN,” harapnya.

Pembukaan halaqah para ulama bertema ‘Mengembangkan Islam Moderat melalui Jaringan Pesantren’ ini ditandai dengan pemukulan gong oleh Wapres didampingi Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin, Kepala Badan Litbang dan Diklat Abdurrahman Mas’ud, dan Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain: Prof Dr Azyumardi Azra (Guru Besar UIN Jakarta), KH Sholahuddin Wahid (Pesantren Tebuireng Jombang), Prof Dr Iik Arifin Manshurnoor (Guru Besar UIN Jakarta), Prof Dr Abdul Munir Mulkhan, MA (Guru Besar UIN Yogyakarta), Prof Dr Mohd Syukri Yeoh Abdullah (Universitas Kebangsaan Malaysia/UKM), Dr Mohammad Hannan Hassan (MUIS Singapura).

Kemudian, Dr Adnan bin Haji Awang Basa (Collej University Brunai Darussalam), Dr Faishol Haji Awang (Thailand), Dr Carmen Abubakar (University of Philippine), Prof Abdurrahman Masud, PhD (Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag), KH Abdullah Sarwani (Mantan Duta Besar RI di Lebanon) dan KH Najib Zabidi (Pesantren Maslakul Huda Kajen-Pati).


(nu.or.id)
loading...

No comments