Breaking News

Setelah Rubah Sikap, Elektabilitas Ahok Kembali Naik

JAKARTA  - Calon Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, mengatakan permohonan maaf dan perubahan kepribadiannya bisa saja mempengaruhi elektabilitasnya yang kembali naik dalam survei yang dirilis Lembaga Survei Indonesia, pada Kamis, 15 Desember 2016.

Dalam survei tersebut, elektabilitas Ahok pada Desember 2016 berada di posisi teratas dengan capaian 32,9 persen. Angka tersebut naik 5,6 persen dari November 2016.

LSI memperkirakan meningkatnya elektabilitas karena dipengaruhi permintaan maaf Ahok terkait dengan ucapannya yang mengutip Surat Al-Maidah. Selain itu, mayoritas publik menilai permohonan maaf itu tulus sehingga perlu dimaafkan.

Melihat hal tersebut, menurut Ahok, permohonan maaf dan perubahan kepribadiannya yang mulai lebih lembut dan santun, bisa saja mempengaruhi tingkat keterpilihannya. "Saya kira memang warga DKI, secara umum bangsa kita, bangsa pemaaf. Kecuali orang tertentu yang enggak bisa memaafkan. Bangsa kita itu kan bangsa yang bertuhan," kata Ahok di Jalan Lembang, Jakarta Pusat, Jumat, 16 Desember 2016.

Namun Ahok menilai posisinya sebagai inkumben juga mempengaruhi elektabilitas. "Saya kira petahana memang agak beda dengan yang mau nyalon ya," kata Ahok.

Ahok menuturkan, sebagai calon inkumben, yang diperlukan adalah survei tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerjanya selama empat tahun di pemerintahan. Sebab, menurut dia, jika masyarakat puas akan kinerjanya, sudah semestinya kepuasan tersebut mengikuti tingkat keterpilihan.

Ia menambahkan, hal yang membuatnya bingung adalah ketika ada survei yang menyebutkan tingkat kepuasan terhadapnya tinggi, tapi elektabilitas rendah. "Misal kamu pacaran, pacarmu bilang, 'Kamu baik banget, aku suka banget sama kamu. Tapi maaf aku harus putusin kamu'. Kita bingung kan. Itu kita enggak tahu," ujarnya.

Untuk kepuasan masyarakat terhadap kinerja Ahok, survei LSI menemukan tingkat kepuasan masyarakat mengalami peningkatan dibandingkan temuan pada bulan sebelumnya. Pemprov DKI cenderung dinilai bersih dan relatif stabil. Warga Jakarta menilai baik kondisi pemerintahan dari segi ekonomi, infrastruktur, serta keterjangkauan biaya pendidikan dan berobat.


(Tempo.co)
loading...

No comments